Dipeluk hawa dingin menuju tengah malam Gunung Batur-Bali, sesekali menggigil, dalam balutan jaket wind-breaker, aku duduk sendiri di kursi plastik, di samping gapura start-finish indah berhias patung barong khas Bali di kanan kirinya, di pinggir karpet merah yang terbentang untuk menyambut para pelari trail ultra, jelang menuntaskan petualangannya dalam hitungan beberapa jam ke depan.

In nòreni per ìpe,
in noreni coràh;
tirà mine per ìto,
ne dominà.

”Conquest of Paradise” bergema menembus udara. Lagu yang sejak pukul 4 sore hari sebelumnya sudah terdengar, saat mengantar para pelari 100K Bali Trail Running Ultra 2025 memulai perjalanan maksimal 34 jamnya, masih terus berputar, berulang-ulang. Kolosal, epik, dan megah. Misterius, tanpa makna yang jelas. Keindahan harmoni yang sejatinya mungkin memang tidak butuh kejelasan.

In nòreni per ìpe,
in noreni coràh;
tirà mine per ìto,
ne dominà.

Di belakangku, entah lelaki atau perempuan, terbungkus rapat emergency blanket, meringkuk kedinginan di rumput basah, setelah menyelesaikan lari, entah jarak 100K atau 60K. Beberapa pelari dan kerabat pelari berdiri di samping, menyambut teman dan keluarganya yang mengalir satu demi satu ke garis finish, baik yang 100K (setelah merambah 3 gunung dengan elevasi total lebih dari 7.200 meter) maupun yang 60K (2 gunung dengan elevasi total lebih dari 3.800 meter), dengan langkah lari kokoh, atau berjalan tegap, atau juga terseok menyeret kaki mengandalkan sisa-sisa tenaga terakhirnya.

Jam digital besar di bawah gapura menyala merah, terus bergerak, detik berganti menit. Saat angka-angkanya menunjukkan pukul 22:26, tiga puluh empat menit menjelang cut-off-time (COT) pukul 11 malam, kategori 60K, nama Anne dan HaWong diteriakkan. Aku berdiri, lega, bersiap menyambut keduanya, yang start sejak subuh pukul 4 tadi pagi. Anne tampak muncul dari tikungan, berlari di atas karpet -sembari menunjuk luka memar merah hitam di pinggir mata kanannya akibat terjatuh, sementara darah segar masih mengalir di kakinya- melintas di bawah gapura merah. Menyusul kemudian HaWong, tampak strong, berjalan santai. Finish!

In nòreni per ìpe,
in noreni coràh;
tirà mine per ìto,
ne dominà.

Cerita pelari (trail) ultra adalah cerita tentang keringat dan lelah, keram dan cidera, memar dan blister, mual dan kantuk, sengal napas dan degup jantung, dingin dan panas, jarak dan waktu, haus dan lapar, sendiri dan halusinasi, sakit dan putus asa, darah dan air mata.
Cerita tentang penaklukan.

Cerita pelari (trail) ultra adalah cerita tentang diri dan alam, keberanian dan perlawanan, jatuh dan bangkit, fisik dan mental, daya tahan dan kemandirian, determinasi dan kontemplasi, keberadaan dan pengharapan, perjuangan dan pencapaian diri, bumi dan semesta.
Cerita tentang surga.

Cerita pelari (trail) ultra adalah cerita tentang penaklukan surga, “conquest of paradise”.
Epik.
Megah.
Misterius.
Tidak jelas.
Tidak bisa dijelaskan.
Tidak perlu dijelaskan.

In ròmine tirmèno,
ne ròmine to fa,
imàgine pro mèno,
per imentirà.

Batur-Bali, 10 Mei 2025
Pelari 30K BTR2025

NH

Nicky Hogan's avatar
Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.